TENTANG

TENTANG VINCENT GASPERSZ

TENTANG VINCENT GASPERSZ

Prof. Vincent Gaspersz adalah ahli Manajemen Sistem dan Teknik Industri, serta secara intensif mendalami Manajemen Manufaktur dan Kualitas, Ekonomi Manajerial, Manajemen Produksi dan Inventori, dan Analisis-analisis Statistika baik secara praktis maupun teoretis. Pengalaman praktis dalam bidang ini didapat melalui menjadi Koordinator Pelatihan merangkap Instruktur dan Konsultan dalam bidang Manajemen Manufaktur dan Kualitas pada Salim Group (1991-1992), pada Gajah Tunggal Group (1992-1996), dan Direktur Lean Enterprise pada Garibaldi Industries, Inc., Vancouver, Canada (2003-2004). Sedangkan pengalaman teoretis didapat dengan menjadi Dosen Senior dan Ketua Bidang Studi Manajemen Produksi dan Kualitas pada Program Pascasarjana Universitas Trisakti, sejak 1993. Sejak tanggal 1 Juli 2002 ia telah diangkat menjadi Guru Besar (Profesor) dalam bidang Total Quality dan Operations Management pada Program Pascasarjana Universitas Trisakti, Jakarta, berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor: 38044/A2.III.1/KP/2002 dengan total angka kredit/Kum sebanyak 1050.

Beberapa institusi/organisasi/perusahaan yang telah dan sedang menggunakan jasa pelatihan dan/atau konsultasi dari Prof. Vincent Gaspersz adalah: PT Salim Group of Companies, PT Gajah Tunggal Group of Companies, PT Lyman Group of Companies, Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (LPPM), Pusdiklat Pemda DKI Jaya, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP), PT Astra International Tbk., PT Konimex, PT Semen Gresik, PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), Pertamina, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Showa Indonesia Manufacturing, PT Asuransi Astra Buana, PT Inti Karya Persada Teknik (IKTP), PT Lautan Luas Group of Companies, dan berbagai seminar publik maupun in-house yang diikuti oleh perusahaan-perusahaan berskala besar dan menengah.

Untuk menambah wawasan internasionalnya, ia menjadi anggota internasional dari The American Society for Qualitywww.asq.org sejak 1994, dan pada bulan April 1998 telah dipromosikan menjadi Senior Member of the American Society for Quality—suatu pengakuan organisasi untuk orang yang berpengalaman minimum 10 tahun dalam bidang manajemen kualitas. Ia memperoleh empat gelar profesional dari American Society for Quality (ASQ), yaitu:Certified Six Sigma Black Belt (CSSBB), Certified Quality Auditor (CQA), Certified Quality Engineer (CQE), dan Certified Manager of Quality/Organizational Excellence (CMQ/OE). Ia juga memperoleh gelar profesional Six Sigma Master Black Belt (SSMBB) dari the International Quality Federation (IQF), USA dan Quality Management System Auditor dari RABQSA International, USA. Ia juga menjadi anggota ASQ—Six Sigma Forum, dan anggota internasional dari The American Production and Inventory Control Societywww.apics.org sejak 1995. Ia telah mengikuti Program for Management Development (PMD) dari the Asian Institute of Management (AIM), Filipina, juga memperoleh Certified Trainer dalam Situational Leadership: Leveraging Human Performance dari the Centre For Leadership Studies, Australia, Certified Internal Quality Auditor (CIQA) dalam bidang-bidang: Just-In-Time (JIT), Systems and Technologies (S&T), Master Planning (MP), Inventory Management (IM), Material and Capacity Requirements Planning (M&CRP), and Production Activity Control dari The American Production and Inventory Control Society (APICS), USA. Pada 17 April 1998 ia memperoleh gelar tertinggi CFPIM (Certified Fellow in Production and Inventory Management) dari The American Production and Inventory Control Society (APICS), USA. Ia juga memperoleh APICS Certified Supply Chain Professional (CSCP) pada 15 Maret 2008.

Berdasarkan pendidikan formal, pendidikan profesional dan pengalaman praktik yang dimiliki oleh Prof. Vincent Gaspersz, maka pada tanggal 7 November 2001, ia telah memperoleh pengakuan penilaian akademik dari the Canadian Council of Technicians and Technologists—sebagai seorang Technologist yang boleh berpraktik/bekerja dalam industri di Canada (File: IARS3928).

Prof. Vincent Gaspersz memenangkan Regional Booster Award 1997-1998, suatu penghargaan paling bergengsi dari The American Society for Quality yang diberikan setiap tahun kepada seorang anggota terpilih yang dianggap paling berjasa mempromosikan organisasi kualitas dunia itu. Bukunya yang berjudul Statistical Process Control: Penerapan Teknik-Teknik Statistikal dalam Manajemen Bisnis Total telah diterima sebagai buku Referensi oleh ASQ dan dimuat dalam Quality World Vol 16 No 3, Juli 1998. Konsep VINCENT telah dimuat dalam Quality World Vol 17 No 1, January 1999.

Prof. Vincent Gaspersz juga pernah menulis artikel ilmiah populer untuk Kompas, Suara Pembaruan (dulu Sinar Harapan), dan Bisnis Indonesia. Salah satu artikelnya yang berjudul “Mengembangkan Pendidikan Tinggi Berwawasan Sistem Industri” (Kompas, 6 Mei 1994) memperoleh piagam penghargaan sebagai Penulis Terbaik dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, pada bulan Agustus 1994. Prof. Vincent Gaspersz adalah Perumus Konsep VINCENT tentang Kualitas dan Tujuh Kebiasaan Kualitas yang telah terdaftar pada Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten, dan Merek, Departemen Kehakiman Republik Indonesia.

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Banyak orang di Indonesia masih belum jelas membedakan antara masalah (akibat) dan penyebab masalah (sebab). Dalam berbagai konsultasi, pelatihan industri, seminar publik, maupun kuliah di Program Pascasarjana, banyak orang merasa heran ketika saya mengemukakan bahwa apabila kita ingin maju, kita harus menciptakan masalah. Mereka heran karena mereka belum bisa membedakan secara jelas dan tegas tentang sebab (penyebab masalah) dan akibat (masalah). Masalah adalah kesenjangan (gap) yang terjadi antara hasil aktual pada saat sekarang dan target kinerja yang diinginkan di masa depan. Dengan demikian orang-orang sukses akan selalu menetapkan target kinerja yang tinggi di masa depan, kemudian mereka berusaha melakukan solusi masalah dengan menciptakan upaya-upaya inovatif dan kreatif untuk mencapai target itu. Jika ingin maju, kita harus selalu menciptakan masalah melalui penetapan target kinerja yang tinggi di masa datang, kemudian berusaha melakukan solusi masalah dengan menghilangkan akar penyebab masalah itu agar kita dapat mencapai target kinerja yang telah kita tetapkan. Kita harus selalu menciptakan masalah (target kinerja untuk masa depan), namun kita jangan menjadi penyebab masalah itu.

Demikian pula, ketika menghadapi masalah, banyak orang di Indonesia tidak melakukan solusi masalah, tetapi mencari “kambing hitam” dengan menyalahkan orang lain, lingkungan, dll. Hal ini berarti mereka selalu berfokus pada penyebab masalah yang tidak dapat dikontrol (uncontrollable) dan tidak dapat diprediksi (unpredictable). Jika kita tidak mampu menghilangkan akar penyebab masalah, yang pada umumnya dapat dikontrol (controllable), atau mengantisipasi penyebab yang dapat diprediksi (predictable causes), maka masalah yang sama akan terus berulang sepanjang waktu. Konsekuensinya adalah Negara dan Bangsa Indonesia akan selalu tertinggal dari negara-negara maju di dunia.

Berikut ini adalah kisah saya yang menggunakan metode solusi masalah USE PDSA. Target kinerja saya ketika kuliah di program sarjana peternakan di NTT—daerah paling miskin di Indonesia—adalah menjadi profesor doktor terkenal, kaya dan hidup mapan di dunia, kemudian setelah meninggal dunia masuk surga (target tulisan di batu nisan saya adalah TIDAK ADA PENYESALAN)! Ketika kuliah di tingkat lima (dahulu sarjana peternakan harus ditempuh dalam enam tahun, empat tahun untuk Bachelor of Science—B.Sc, dan dua tahun untuk gelar Ir.Peternakan), saya selalu menulis nama Prof. Dr. Ir. Vingas, M.Sc di belakang buku kuliah saya. Itu adalah target kinerja saya pada tahun 1979. Ketika teman-teman kuliah saya bertanya, “Siapa itu Prof. Dr. Ir. Vingas, M.Sc?” Saya menjawab, “Itu adalah orang paling DAHSYAT DAN MENGAGUMKAN!” Harus ada kebanggaan (bukan kesombongan) pada diri sendiri! Semua target kinerja saya yang ditetapkan pada tahun 1979 itu akhirnya benar-benar tercapai pada tahun 2002, ketika saya berusia 43 tahun!

Tahukah Anda bahwa saya adalah seorang miskin yang selalu gagal sejak usia sembilan tahun, karena ia hidup menumpang pada orang lain agar memperoleh biaya sekolah? Kemudian menjadi sopir angkutan kota dan angkutan pedesaan pada usia 15 tahun? Masuk universitas pada usia 15 tahun dengan berprofesi ganda sebagai mahasiswa dan sopir angkutan kota? Pernah gagal satu tahun (tidak naik tingkat pada tahun 1975—program pendidikan Non-Sistem Kredit Semester) karena nilai mata kuliah Pengantar Statistika dinyatakan Angka Mati (nilai dua dari nilai maximum enam)? Kegagalan dalam mata kuliah Pengantar Statistika telah menjadikan saya seorang yang berani GAGAL dan mengikuti kuliah S2 Statistika Terapan di IPB (Institut Pertanian Bogor) dengan hanya berbekal pengetahuan matermatika yang sangat dasar, tanpa paham sedikit pun mengenai kalkulus! Namun keberanian saya untuk gagal itulah yang membuat saya SUKSES meraih Magister Sains Statistika Terapan! Terima kasih kepada guru-guru besar saya: Almarhum Prof. Dr. Ir. Andi Hakin Nasoetion; Prof. Dr. Barizi, MES; Prof. Dr. Ir. Ahmad Ansori Mattjik; Prof. Dr. Ir. Siswadi; dan Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec, yang telah berbaik hati membuat saya menjadi master statistika terapan.

Kemudian saya berani gagal lagi dengan mengikuti kuliah S3 dalam bidang Teknik Sistem dan Manajemen Industri di ITB dengan status percobaan, yaitu harus memiliki IP = 3.50 dalam masa paling lambat dua semester (jika dalam dua semester IP < 3.50, maka harus drop out), padahal di saat yang sama saya memasuki semester tiga di program doktoral bidang ekonomi pertanian, UNPAD Bandung. Ketika masuk ITB pada bulan Januari 1998, saya “diteror” oleh banyak mahasiswa S2 dan S3 ITB yang mengatakan bahwa jurusan yang saya pilih baru menghasilkan satu doktor pada tahun 1982, dan sampai 1988 tidak ada lulusan (zero output, mengapa bukan zero errors/defects/drop out?). Sementara itu ada banyak peserta mahasiswa S3 yang frustrasi karena telah 6 tahun studi masih sibuk mengikuti kuliah dan selalu tidak lulus dalam mata kuliah tertentu. Namun lagi-lagi saya berani gagal dan telah bertekad menetapkan target kinerja bahwa saya adalah orang kedua yang menjadi menjadi doktor di ITB dalam bidang keahlian yang saya pilih! Saya berani gagal dalam waktu tiga tahun di ITB. Dalam tiga semester saya telah menyiapkan disertasi doktor, namun saya dianggap terlalu cepat kalau langsung ujian doktor—”Mana mungkin ada doktor lulus hanya dalam waktu tiga semester,” kata “bos besar”. Padahal Promotor Prof. Dr. Matthias Aroef—founding father teknik industri di Indonesia—telah menyetujui saya untuk mengikuti ujian doktor, meskipun baru kuliah tiga semester. Tetapi lagi-lagi saya berani gagal lebih lama lagi, sampai tiga tahun. Miliaran terima kasih kepada Prof. Matthias yang telah mengubah jalan hidup saya dari seorang sarjana peternakan Universitas Nusa Cendana, Kupang, NTT, menjadi doktor ke-2 teknik sistem dan manajemen industri ITB dengan meraih IP = 4.0 (nilai maksimum, padahal persyaratan agar tidak drop out S3 ITB cukup IP = 3.50).

Kemudian pada tahun 1991 saya berani GAGAL lagi dengan melamar bekerja di perusahaan industri terbesar di Indonesia dari posisi paling bawah, yaitu Management Trainee—MT (bayangkan, seorang doktor bidang teknik sistem dan manajemen industri ITB, IP = 4.0 berani gagal untuk menjadi MT). Saya berani gagal karena target kinerja saya bukan menjadi karyawan, tetapi mempelajari praktik-praktik nyata dalam dunia industri selama sekitar 5 tahun agar teori yang saya pelajari bisa nyambung dengan dunia praktik. Pada tahun 1996, saya keluar dari karyawan (bukan mengundurkan diri, tetapi memajukan diri di luar status sebagai karyawan—istilah Tung Desem Waringin, penulis buku laris Financial Revolution). Meskipun saya telah bekerja sebagai karyawan, kemudian konsultan dan trainer, saya masih ingat target kinerja yang saya tetapkan pada tahun 1979, yaitu meraih gelar profesor. Lagi-lagi karena berani gagal, saya sukses memperoleh gelar Profesor Total Quality and Operations Management pada tahun 2002, ketika saya berusia 43 tahun! Tidak ada hal mustahil dalam hidup ini; seorang sarjana peternakan menjadi master statistika kemudian doktor teknik sistem dan manajemen industri, kemudian memperoleh banyak sertifikasi dalam bidang kualitas dan manajemen industri dari organisasi terkenal bertaraf internasional (American Society for Quality—www.asq.org dan American Production and Inventory Control Society—www.apics.org).

Pada tahun 2003, saya merantau dan menjadi Direktur Lean Enterprise di Perusahaan Kanada di Vancouver (saya diterima bekerja bukan karena gelar Prof. Dr. Ir. M.Sc, tetapi karena sertifikasi bertaraf internasional dari ASQ dan APICS). Di sana saya “bertemu” Tuhan, lalu Dia “meminta” saya pulang ke Indonesia untuk menyaksikan hal terdahsyat yang akan terjadi di Indonesia. Ketika tiba di Indonesia pada bulan Januari 2005, saya mengabarkan kepada banyak orang tentang bencana besar yang akan terjadi, namun dianggap “tidak beres” karena gagal di Vancouver. Untuk memastikan bahwa diri saya masih normal, saya mengikuti ujian sertifikasi Six Sigma Master Black Belt (SSMBB) dengan batas waktu ujian 8 jam. Saya lulus dengan angka 100 (zero incorrect/errors) hanya dalam waktu 90 menit!

— Dikutip dari Buku TOPS:
Team-Oriented Problem Solving
ISBN: 979-22-2559-5

KLIEN

KLIEN

SERTIFIKASI

SERTIFIKASI

No. Professional Organization Name of Certificate Original Date Certified Last Date Renewed Maintenance Deadline
1. Leadership Studies International (Australia) Train-The-Trainer of Situational Leadership January 1992 N/A N/A
2. Novo Quality Services (Singapore) Internal Auditor of Quality Systems Training September 1994 N/A N/A
3. APICS (USA) Certified in Production and Inventory Management (CPIM) April 1996 April 2017 April 2023
4. APICS (USA) Certified Fellow in Production and Inventory Management (CFPIM) April 1998 April 2017 April 2023
5. APICS (USA) Certified Supply Chain Professional (CSCP) June 2008 April 2017 June 2023
6. International Quality Federation (USA) Certified Six Sigma Master Black Belt September 2005 N/A N/A
7. American Society for Quality (USA) Certified Manager of Quality/Organizational Excellence (CMQ/OE) April 2006 June 2015 June 2018
8. American Society for Quality (USA) Certified Quality Engineer (CQE) June 2006 June 2015 June 2018
9. American Society for Quality (USA) Certified Six Sigma Black Belt (CSSBB) October 2006 June 2015 June 2018
10. American Society for Quality (USA) Certified Quality Auditor (CQA) December 2006 June 2015 June 2018
11. American Society for Quality (USA) Certified Quality Improvement Associate (CQIA) December 2016 N/A N/A
12. RAB-QSA/Exemplar Global (USA) Certified Management System Auditor (CMSA) January 2007 January 2014 January 2019
13. RAB-QSA/Exemplar Global (USA) Certified Management System Specialist (CMSS) September 2015 N/A September 2017
14. RAB-QSA/Exemplar Global (USA) Certified Management System Lead Specialist (CMSLS) March 2017 N/A September 2017

Notes:

  • APICS = The American Production and Inventory Control Society (www.apics.org)
  • ASQ = The American Society for Quality (www.asq.org)
  • IQF = The International Quality Federation (www.iqf.org)
  • RAB-QSA = Registration Accreditation Board Quality System Australasia (www.exemplarglobal.org) is part of the ASQ family

BUKU PUBLIKASI

BUKU PUBLIKASI