Belajar Systems Thinking Melalui Implementasi “MAGIC” Modern

Belajar Systems Thinking Melalui Implementasi “MAGIC” Modern

Oleh: Vincent Gaspersz, Lean Six Sigma Master Black Belt Certified Management System Lead Specialist and Auditor

  • American Production and Inventory Control Society (www.apics.org) Certified in Production and Inventory Management (CPIM), Certified Fellow in Production and Inventory Management (CFPIM) and Certified Supply Chain Professional (CSCP);
  • American Society for Quality (www.asq.org) Certified Manager of Quality/Organizational Excellence (CMQ/OE), Certified Quality Engineer (CQE), Certified Quality Auditor (CQA), Certified Quality Improvement Associate (CQIA), and Certified Six Sigma Black Belt;
  • International Quality Federation (www.iqf.org) Certified Six Sigma Master Black Belt (CSSMBB);
  • Registration Accreditation Board (www.exemplarglobal.org) Certified Management System Auditor (CMSA), Certified Management System Practitioneer (CMSP), Certified Management System Specialist (CMSS), and Certified Management System Lead Specialist (CMSLS).

 

Kata MAGIC atau mistik, jampi-jampi, jimat, “leu-leu” (bahasa Kupang) atau kata lainnya telah umum dikenal banyak orang. Bagi mereka yang berpendidikan tinggi atau tidak berpendidikan sekalipun, apabila daya dorong MOTIVASI dalam diri lemah, maka akan terjebak pada penggunaan MAGIC kuno (mistik, jampi-jampi, dll) untuk membantu mereka mencapai SUCCESS dalam bidang apapun.

Ketika saya bertemu dengan banyak orang di berbagai kesempatan, saya selalu menanyakan apakah mereka percaya “MAGIC” atau dalam berbagai istilah lain seperti: jampi-jampi, jimat, “leu-leu”, dll? Banyak orang selalu tersenyum yang mengandung banyak makna. Kemudian saya selalu bertanya mengapa seseorang yang pergi ke dukun atau tempat-tempat yang dianggap “keramat”, ketika kembali dari dukun sakti yang memberikan “akar kayu dibungkus kain putih/hitam” mereka menjadi termotivasi untuk bekerja giat dan SUCCESS?

Sesungguhnya rahasia SUCCESS mereka itu ada di bawah ini, di mana kita bisa mempelajari bagaimana otak mereka yang pergi ke dukun-dukun itu bekerja secara sistematik yang sekaligus secara naluri atau alamiah mereka TELAH menerapkan Systems Thinking. Dengan demikian kita bisa belajar systems thinking melalui kata “MAGIC”. Jika tulisan saya ini dibaca oleh dukun-dukun yang berpendidikan, maka mereka akan bertambah PROFESIONAL karena mereka ikut menyebarluaskan systems thinking kepada pasien-pasien mereka.

Ketika seseorang bermotivasi rendah memutuskan untuk pergi ke dukun sakti, maka PASTI dia memiliki sasaran yang jelas yaitu SUCCESS dalam bidang tertentu, misalnya: SUCCESS dalam bisnis, pendidikan, jabatan, dll. Dalam konteks “MAGIC” modern, maka dikatakan seseorang itu telah memiliki GOAL (Sasaran) yang jelas, yaitu: SUCCESS. TIDAK mungkin seseorang ke dukun dan meminta GAGAL atau menetapkan sasaran agar ia GAGAL.

Sasaran yang SMARTER (Specific, Measurable, Achievable/Actionable, Result-oriented, Time-bound, Empowerment, Reward & recognition) ini secara tidak SADAR telah tertanam dalam alam bawah sadar (otak) yang akan berubah menjadi perilaku (attitude), kebiasaan (habits), dan karakter sehari-hari menuju SUCCESS.

Sang Dukun yang PROFESIONAL akan SELALU menyatakan bahwa apapun GOAL (SUCCESS) itu bisa dipenuhi dengan persyaratan yang SANGAT BERAT, di mana semakin SULIT suatu GOAL dicapai, maka persyaratan akan semakin sulit juga, misalnya: HARUS menyiapkan kerbau “Bule” yang berharga ratusan juta atau milyaran rupiah. KARENA orang yang mencari SUCCESS melalui dukun sakti itu percaya, maka dia akan dengan senang hati memenuhi permintaan sang dukun sakti itu. Melalui negosiasi dan transaksi, maka sang dukun memberikan sebuah benda fisik yang bisa dilihat dan dipegang oleh pencari SUCCESS melalui dukun sakti itu.

Sekembali dari sang dukun, motivasi orang itu menjadi bertambah lagi karena telah ada “benda sakti” yang menambah semangat bekerja (termasuk melakukan ritual yang berat) untuk SUCCESS. Dukun sakti yang PROFESIONAL harus memberikan persyaratan ritual yang BERAT, agar pencari SUCCESS melalui dukun itu semakin percaya. Pada saat seseorang TELAH termotivasi untuk melakukan ritualapapun, meskipun berat, maka pada saat itu GOAL telah mampu mengubah Mindset orang itu untuk melakukan ACTION.

Ketika seseorang TELAH melakukan ACTION, maka PASTI akan memperoleh HASIL (Achievement), terlepas dari apakah hasil pencapaian itu TELAH mencapai GOAL (SUCCESS) atau belum mencapai GOAL (Goal Achievement).

Dalam pandangan manajemen modern, maka sasaran yang jelas itu berupa GOAL telah mampu mengubah MINDSET mereka yang memiliki GOAL itu untuk menuju pencapaian sasaran (Goal Achievement) yang disebut SUCCESS.

Meskipun pencari SUCCESS melalui dukun sakti itu ketika melakukan ritual yang berat BELUM mencapai GOAL (SUCCESS), tetapi karena MINDSET dia telah meyakini bahwa pada satu saat di waktu yang akan datang dia akan SUCCESS, maka pada waktu sedang menunggu ini dia TELAH menciptakan ruang untuk perbaikan (Improvement) terus-menerus dari ACTION dia. Dalam hal ini dia telah menciptakan OFI (Opportunity for Improvement). Pada akhirnya melalui KOMITMEN (Commitment) untuk terus-menerus bekerja, melakukan perbaikan-perbaikan (Improvement), diikuti ritual yang berat sebagai persyaratan dari sang dukun sakti, maka sang pencari SUCCESS melalui dukun sakti mencapai GOAL (SUCCESS). Demikian sekilas mekanisme kerja melalui MAGIC tradisional.

Sekarang kita melihat bagaimana “MAGIC” modern bekerja di negara-negara maju yang mayoritas masyarakat selalu berpikir kritis dan rasional?. Jika seseorang memiliki daya juang (motivasi) yang kuat, apakah berpendidikan tinggi atau tidak berpendidikan formal sekalipun, jika kita memperhatikan perilaku, kebiasaan, dan karakter mereka sehari-hari, maka dalam diri mereka itu disadari atau tidak disadari telah menggunakan “MAGIC” modern dalam pola Systems Thinking, di mana dalam hal ini mereka tidak bergantung lagi pada benda-benda atau jimat-jimat (MAGIC kuno), tetapi mereka telah bergantung pada kekuatan diri sendiri yang memiliki MOTIVASI kuat itu. Motivasi yang kuat itu disebut sebagai “MAGIC” modern, yang bersumber dari dalam diri mereka sendiri yang telah tertanam dalam alam bawah sadar sehingga membentuk MINDSET untuk SUCCESS.

“MAGIC” modern yang dimaksud dalam tulisan ini merupakan satu akronim yang terdiri dari lima elemen utama yang saling terkait satu sama lain yang membentuk perilaku, kebiasaan, dan karakter orang-orang SUCCESS yang secara sadar atau tidak sadar telah menerapkan Systems Thinking dalam kehidupan sehari-hari mereka. Lima elemen dari kata “MAGIC” adalah: Mindset, Achievement, Goal, Improvement, Commitment yang ditunjukkan dalam Bagan terlampir. Dalam bagan terlampir kita melihat bahwa yang menjadi titik pusat (central point) untuk mengendalikan segala sesuatu menuju SUCCESS adalah GOAL. Kita bisa memetakan menggunakan systems thinking di mana masing-masing elemen dari kata “MAGIC” itu saling berkaitan dengan arah POSITIF (memberikan energi POSITIF).

SUCCESS dimulai dari GOAL untuk mencapai SUCCESS. Selanjutnya GOAL yang disusun dengan kekuatan SMARTERS (Specific, Measurable, Achievable through action, Result-oriented, Time-bound/Timely, Evaluation/Empowerment, Review/Reward & Recognition, Spirituality) itu akan mempengaruhi atau menciptakan Mindset yang benar. Mindset atau pola pikir bagi orang-orang SUCCESS adalah menciptakan kesempatan (Opportunity), sedangkan Mindset orang-orang GAGAL adalah menunggu atau tidak mempedulikan kesempatan, sehingga sering kali kesempatan yang telah adapun dilewatkan begitu saja dengan berbagai alasan pembenaran yang mencerminkan motivasi diri yang lemah.

Jika orang-orang GAGAL selalu membaca Opportunity is NO WHERE (kesempatan tidak ada di mana-mana), maka orang-orang SUCCESS selalu membaca Opportunity is NOW HERE (kesempatan ada di sini sekarang) dengan hanya mengubah susunan huruf NO WHERE menjadi NOW HERE.

Melalui keterkaitan POSITIF antara elemen GOAL dan Mindset, maka melalui ACTION kita akan mencapai hasil apapun (Goal Achievement through action). Dengan demikian kita menggambarkan menggunakan systems thinking bahwa Elemen GOAL (SUCCESS) berpengaruh POSITIF pada elemen Mindset yang benar, dan selanjutnya elemen Mindset berpengaruh POSITIF pada pencapaian sasaran melalui action (Goal Achievement through Action). Di sini kita dapat memahami secara mudah mengapa orang-orang SUCCESS memiliki kebutuhan berprestasi (Need for Achievement) yang tinggi sedangkan orang-orang GAGAL memiliki kebutuhan berprestasi yang rendah?.

Elemen berikut dari kata MAGIC adalah: Improvement, di mana orang-orang SUCCESS selalu berusaha melakukan perbaikan terus-menerus (Continual Improvement). Meskipun orang-orang SUCCESS telah mencapai Goal (Sasaran), maka target dari sasaran (Goal) itu selalu ditingkatkan terus-menerus agar terjadi “Room for Improvement” sepanjang hidup mereka. Karena orang-orang SUCCESS selalu berfokus pada GOAL (SUCCESS), maka meskipun mereka belum mencapai SUCCESS sekalipun, mereka terus-menerus melakukan perbaikan (Improvement). Dalam konteks manajemen modern dikatakan mereka menciptakan OFI (Opportunity for Improvement) agar selalu mencapai SUCCESS terus-menerus. Secara sadar atau tidak sadar orang-orang SUCCESS telah menjadikan pembelajaran seumur hidup (long life learning) menjadi karakter pribadi mereka. Pembelajaran seumur hidup dapat saja dilakukan melalui GOAL yang tercapai (SUCCESS) atau belum tercapai yang masih tertunda (GAGAL). Itu makanya pembelajar seumur hidup selalu menganggap GAGAL sebagai SUCCESS yang tertunda saja, Karena melalui Improvement mereka akan SUCCESS di masa yang akan datang.

Elemen terakhir dalam MAGIC modern adalah: Commitment. Komitmen dapat disamakan dengan dedikasi, resolusi, sumpah, perjanjian dengan diri sendiri untuk melaksanakan empat elemen yang lain dalam MAGIC itu dengan sasaran utama adalah GOAL (SUCCESS). Komitmen sering menjadi kewajiban yang membatasi kebebasan bertindak “suka-suka”, di mana orang-orang SUCCESS memiliki kebiasaan (habits) untuk mengikuti berbagai peraturan dan persyaratan sebagai kewajiban agar mencapai GOAL (Sasaran) yang telah ditetapkan berbentuk SMARTERS (SMARTERS Goal) yang targetnya akan ditingkatkan terus-menerus sepanjang waktu.

Uraian di atas menunjukkan bahwa apabila kita ingin SUCCESS, maka kita tidak perlu lagi pergi ke dukun-dukun atau tempat-tempat pertapaan untuk mencari MAGIC tradisional (jampi-jampi, jimat, leu-leu, dll), tetapi kita cukup menerapkan “MAGIC” modern menggunakan Systems Thinking untuk mencapai SUCCESS. Systems Thinking untuk MAGIC modern ditunjukkan dalam Bagan 1 terlampir di atas.

Di samping pembelajaran systems thinking melalui MAGIC modern di atas, maka SUCCESS itu sendiri memiliki akronim berikut:

  • S = SET and SEE our Big Goal (Tetapkan dan Lihatlah selalu pada Sasaran Besar Kita)
  • U = UNDERSTAND the Obstacles (Pahami hal-hal yang menjadi hambatan mencapai sasaran itu)
  • C = CLEAR our mind of Doubt (Bebaskan pikiran Kita dari semua keraguan-hilangkan “waste of thinking”)
  • C = CREATE a Positive Mental Picture (Ciptakan suatu gambaran mental yang positif)
  • E = Embrace the Challenge (Menyukai tantangan-harus berani menghadapi tantangan atau berani GAGAL)
  • S = STAY on Track (Tetap pada jalur yang menuju Sasaran Besar kita-harus FOCUS: Follow One Course Until SUCCESS)
  • S = SHOW the World we Can DO It (Tunjukkan pada dunia bahwa kita mampu melakukan semua itu)

 

Memang semudah itu SUCCESS, yaitu menerapkan MAGIC modern dalam pola berpikir SISTEM (Systems Thinking).

Salam SUCCESS.